Nama : Novia Rachmadani Wijayanti
NIM : 175231077
Mata Kuliah : Metodologi Studi Islam
Dosen : M. Endy Saputro, M.A.
Jurusan : Perbankan Syariah (2B)
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Institut Agama Islam Negeri Surakarta
Jadi Santri Sesaat
Pada waktu itu hari selasa tanggal 13 Maret 2018 saat mata kuliah metodologi studi islam, Dosen saya memberikan tugas untuk melakukan Live in di Pondok Pesantren. Setelah pembagian kelompok dilakukan saya beserta kelompok saya bergegas mencari pondok pesantren, yaitu di Pondok Pesantren Al-Mukmin yang bertempat di Ngruki, Cemani, Grogol, Sukoharjo. Setelah saya dan kelompok saya datang meminta ijin ke Pondok Pesantren tersebut serta menunggu persetujuan dari pihak pimpinan Pondok Pesantren selama beberapa hari lamanya, pada akhirnya kurang lebih selama empat hari saya beserta kelompok mendapatkan jawaban dari pihak Pondok Pesantren bahwa saya beserta kelompok tidak di ijinkan untuk melakukan Live in di Pondok Pesantren tersebut. Karena ada salah satu pertimbangan yang disampaikan oleh pihak Pondok Pesantren yakni, bahwasannya Pondok Pesantren itu sedang berada ditahap renovasi.
Setelah saya beserta kelompok saya tidak mendapatkan ijin dari Pondok Pesantren tersebut, saya dan kelompok bergegas mencari Pondok Pesantren lain dikarenakan waktu yang diberikan oleh Dosen saya akan segera berakhir. Pada saat itu hari sudah mulai petang, namun saya dan kelompok tetap bertekad untuk mencari Pondok Pesantren yang selanjutnya. Akhirnya saya beserta kelompok meluncur ke sebuah Pondok Pesantren di daerah Mojolaban, Sukoharjo. Yaitu Pondok Pesantren Al-Amin.
Sesampainya di Pondok Pesantren Al-Amin Mojolaban, kami bertemu dengan salah satu pengasuh disana yang bernama Mbak Tyas. Lalu, saya berbincang kepada beliau perihal jika saya dan kelompok akan melakukan Live in di Pondok Pesantren tersebut. Setelah saya bernegosiasi bersama Mbak Tyas akhirnya Mbak Tyas meminta kami untuk datang kembali pada keesokan harinya sambil membawa surat keterangan untuk permohonan ijin Live in.
Keesokan harinya saya kembali lagi ke Pondok Pesantren tersebut sambil membawa surat keterangan untuk permohonan ijin live in. Saya kembali bertemu kepada Mbak Tyas selaku pengasuh disana, lalu memberikan surat tersebut kepadanya. Saat itu hujan deras namun saya tetap bertekad demi mendapatkan Pondok Pesantren secepatnya. Dan pada akhirnya tak lama kemudian atau berselang satu hari, pihak Pondok Pesantren memberikan respon positif kepada kami bahwa kami di ijinkan untuk melakukan Live in disana. Sebenarnya kami diberi penawaran hendak Live in kapan, lalu kami berdiskusi ringan dan memutuskan bahwa ingin Live in dihari selasa dan rabu tanggal 20-21 Maret 2018. Dan akhirnya ditetapkan pada hari selasa dan rabu itu kami melaksanakan Live in.
Setelah menjelang hari H, kami pun sudah bersiap-siap. Namun, dari pihak Pondok Pesantren tiba-tiba memberi kabar bahwa Live in kita diundur pada hari jum’at dan sabtu tanggal 23-24 Maret 2018 kemarin. Jadi, itu tadi alasan bahwa saya dan kelompok saya terlambat untuk mengumpulkan essay ini.
Waktu Live in pun telah tiba, hari jumat sudah datang. Rencananya kami hendak berangkat ba’da ashar atau setelah jam kuliah kami berakhir. Namun ada sedikit kendala yang mengharuskan kami berangkat lebih sore. Sebelum kami berangkat Live in, saya dan kelompok menyempatkan diri untuk makan malam terlebih dahulu. Setelah makan malam kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pondok Pesantren Al-Amin. Saat di perjalanan salah satu teman saya terpisahkan, karena yang berada didepan terlalu terburu-buru. Akhirnya teman saya yang lain kembali untuk menghampirinya.
Setelah semuanya terkondisikan, kami pun kembali melanjutkan perjalanan dan tibalah kami di Pondok Pesantren Al-Amin sekitaran pukul tujuh lewat malam hari. Sesampainya kami disana, kami di sambut oleh Mbak Tyas dan Mbak Husnah selaku pengasuh di Pondok Pesantren tersebut. Lalu kami dihantarkan menuju tempat dimana para santri beristirahat. Ternyata disana dibagi menjadi dua Pondok putri untuk istirahat, yaitu Pondok untuk santri MTs dan satu lagi Pondok untuk santri SMA yang dijaga oleh masing-masing pengasuh. Dibagian Pondok Mts ada Mbak Meisa selaku pengasuh yang juga mahasiswa IAIN Surakarta jurusan Hukum Ekonomi Syariah semester 6, jadi kami juga bertanya-tanya tentang Pondok Pesantren dengan beliau serta Mbak Husna selaku pengasuh Pondok SMA. Saat kami sampai di Pondok tersebut, saya dan kelompok saya disambut dengan baik dan hangat.
Selanjutnya, kami pun dipersilahkan masuk dan kami berkenalan dengan para santri disana. Lalu saya mulai bercengkrama dengan para santri disana, ternyata santri disana sangatlah ramah. Yang ada dipikiran saya ialah para santri itu terkenal sangat sinis, ternyata yang ada dipikiran saya itu tidaklah benar. Setelah bercengkrama ringan bersama santri, sekitaran pukul delapan mereka melakukan apel malam untuk memulai kegiatan belajar bersama. Apel ini sudah biasa dilaksanakan sebelum melakukan belajar bersama. Setelah itu mereka melakukan kegiatan belajar bersama, ada yang berkelompok dan ada yang sendiri serta ada beberapa santri yang sedang menghafal ayat suci Al-Quran.
Namun setelah sampai disana kelompok kami dibagi menjadi dua, dikarenakan pihak Pondok Pesantren meminta agar kelompok kami dibagi seperti itu. Dan saya mendapatkan bagian di Pondok MTs, setelah dibagi tim kami langsung terjun untuk membaur bersama para santri. Saat itu kegiatan belajar bersama sedang berlangsung, saya langsung menyambangi mereka untuk membantu mereka jika kesulitan dalam belajar serta sebagian dari mereka ingin sharing bersama saya. Saat itu para santri MTs tengah belajar mata pelajaran yang akan dipelajari di sekolah pada keesokannya. Mereka belajar mata pelajaran Bahasa Arab, Bahasa Inggris serta Al-Qur’an Hadist menggunakan buku LKS dan ada kitab-kitab.
Malam itu kegiatan tidak hanya belajar bersama saja, melainkan belajar sambil bertukar pikiran satu sama lain, belajar sambil makan, dan masih banyak lagi. Sementara yang lain masih melakukan kegitannya masing-masing, saya pun berkeliling di sekitaran Pondok MTs putri. Saya melihat ada beberapa kamar mandi, kamar mandi tersebut berfungsi semua tetapi terkadang disana kekurangan air jadi mereka harus menimba air terlebih dahulu. Beruntungnya saya dan kelompok saya, kami mendapatkan air di Pondok SMA putri. Dikarenakan disana sudah menggunakan pompa air.
Keadaan Pondok Pesantren setelah saya berkeliling cukup rapi, kenapa saya mengatakan cukup rapi? Itu karena bangunan di Pondok Pesantren tersebut masih setengah jadi dan sedang pada tahap renovasi. Namun, barang-barang yang ada disana tertata sangat rapi. Contohnya sandal dan sepatu yang terletak diluar kamar itu tersusun sangat rapi. Bagian teras pun juga bersih, dikarenakan sudah terbagi jadwal piket untuk membersihkan teras dan bagian yang lainnya.
Selain sudah dibagi jadwal piket, di Pondok Pesantren tersebut juga menerapkan sistem kebersihan yang amat baik. Jadi jarang-jarang para santri disana untuk membuang sampah sembarangan. Setelah berkeliling untuk melihat keadaan Pondok Pesantren, saya pun melanjutkan bergabung bersama para santri yang sedang belajar bersama. Sudah menjadi tradisi para santri untuk melakukan belajar bersama hingga pukul sembilan malam. Setelah para santri selesai belajar, mereka pun sebagian masih ada yang belum bisa tidur dan mereka pun memilih untuk bercerita dan sharing kepada kami.
Hal unik yang saya temui disana ialah, disana hanya dianjurkan untuk berbicara menggunakan tiga bahasa, yaitu Bahasa Arab, Bahasa Inggris serta Bahasa Indonesia. walaupun sesekali saya dan kelompok saya juga tidak sengaja berbicara menggunakan Bahasa Jawa. Para santri disana ada yang dari luar daerah Jawa Tengah, yakni Jakarta, Kalimantan, Lampung, dan masih banyak lagi. Namun ada juga para santri yang dari daerah dekat-dekat Soloraya seperti Boyolali, Karanganyar, Solo Baru, Sragen dan masih banyak lagi.
Saya juga bertanya kepada para santri yang sharing dengan saya mengenai kenapa mereka memilih untuk tinggal di Pondok Pesantren. Kebanyakan daripada mereka menjawab bahwa mereka tinggal di Pondok Pesantren itu keinginan dari kedua orangtuanya, ada juga yang terpaksa dan ada juga yang keinginan sendiri. Selain saya yang bertanya, mereka pun juga bertanya kepada saya perihal dunia perkuliahan. Apakah menyenangkan atau tidak, cara agar mendapatkan Beasiswa, tentang biaya-biaya yang dibebankan setelah memulai kuliah, bagaimana mata kuliahnya, dan masih banyak lagi.
Setelah saya selesai bercengkrama bersama para santri tadi, tiba-tiba saya dihampiri oleh seorang anak kecil, lalu anak kecil itu memperkenalkan dirinya. Dan anak itu bernama Nabila, saya berpikiran bahwa anak itu mungkin anak dari salah satu pengasuh yang ada di Pondok Pesantren Al-Amin, ternyata anak kecil itu adalah salah satu santri MI yang ikut tinggal di Pondok Pesantren Al-Amin sejak kelas dua MI, dan ia sekarang sudah kelas lima MI. Lalu saya dan Nabila mengobrol sebentar karena malam pun telah larut. Dari hal ini saya salut kepada Nabila, karena anak sekecil dia semuda dia sudah mau dan berani untuk tinggal di Pondok Pesantren. Walaupun ia di Pondok Pesantren sana tidak sendirian, melainkan bersama Kakaknya yang ada di kelas sembilan MTs.
Setelah itu, kami kembali ke kamar masing-masing, dikarenakan kamar saya dan Nabila berbeda. Lalu, sesampainya dikamar ternyata santri yang satu kamar dengan saya masih belum tidur. Mereka masih melanjutkan aktivitasnya lagi, ada yang masih melanjutkan belajar dan ada juga menikmati makanan ringan yang telah dibawakan oleh salah satu teman kelompok saya. Sebelum saya masuk ke kamar, tadi saya melihat kegiatan yang unik disana. Saya melihat ada dua orang santri yang berjaga didepan dekat pagar, rupanya mereka adalah santri yang sedang berjaga atau ronda untuk meengamankan sekitar.
Setelah saya bertanya-tanya kembali pada santri disana, ternyata memang setiap malam sudah dijadwalkan piket untuk jaga bergilir, namun tidak hanya piket menjaga keamanan saja melainkan ada jadwal piket yang lain. Rupanya di Pondok Pesantren tersebut kegiatannya sudah diagendakan dan sudah dibagi rata untuk para santri. Contohnya seperti jadwal piket untuk menyapu membersihkan teras, membersihkan mushola, menyapu dibagian jemuran. Tidak hanya jadwal piket untuk kegiatan kebersihan saja, masih ada jadwal piket untuk kegiatan keagamaan pula, yakni jadwal giliran menjadi imam serta menjadi yang membaca hadist dan kultum yang sudah dibagi pula.
Dimalam hari sebelum tidur, para santri yang sekamar dengan saya sedang bersiap-siap untuk membaca Al-Ma’tsurat. Apa itu Al-Ma’tsurat? Al-Ma’tsurat ialah kumpulan do’a-do’a Nabi, mereka sudah biasa juga untuk membaca Al-Ma’tsurat sebelum tidur. Setelah mereka selesai membaca Al-Ma’tsurat mereka langsung bergegas untuk tidur.
Di Pondok Pesantren tersebut khususnya di Pondok Putri MTs, terdapat lima kamar yaitu meliputi tiga kamar untuk para santri, satu kamar untuk pengasuh, serta yang satu lagi kamar untuk ibu dapur yang sering memasak di Pondok Putri MTs. Untuk satu kamar santri disana diisi sekitaran 6-12 santri, tetapi kamar yang ditempati oleh saya dan kelompok itu menjadi satu dengan santri yang berisi satu kamar untuk 12 orang, jadi kita tidur menjadi satu namun tetap tercipta suasana yang hangat. Saat pagi menjelang para santri bangun sekitaran pukul 4 pagi. Sebagian ada yang sedang menyetrika baju yang hendak dipakai, ada yang mandi karena takut antriannya banyak, ada juga yang sholat tahajud, dan ada pula yang masih tidur didalam kamar.
Saya pun juga bergegas untuk bangun, saat itu saya dan kelompok saya sudah bangun dan hendak membantu masak bersama ibu dapurnya. Tetapi ternyata ibu dapur tersebut sudah mulai memasak, dikarenakan malam sebelumnya sayur-sayur yang hendak dimasak keesokannya sudah disiapkan terlebih dahulu. Biasanya ibu dapur disana memasak 5 kilogram beras untuk sekitaran 55 hingga 60 santri. Akhirnya saya dan kelompok mengamati kegiatan yang dilakukan santri di pagi hari itu.
Saat saya kembali melakukan pengamatan, saya melihat beberapa santri yang sedang belajar lagi untuk mereview pelajaran semalam yang sudah dipelajari. Kebetulan santri yang sedang saya tanyai itu ialah murid kelas 9 MTs yang saat itu tengah melaksanakan Uji Coba Ujian Nasional. Setelah itu saya mendengar suara orang yang sedang membaca Al-Qur’an dengan indah dan lantang. Ternyata suara itu datang dari seorang santri yang sedang menyetrika baju tetapi sambil melakukan Muroja’ah Al-Qur’an. Subhanallah.
Santri itu bernama Syifa, dia salah satu santri yang menggunakan cadar di Pondok Pesantren itu. Dia memang sudah biasa melakukan Muroja’ah Al-Qur’an seperti itu. Bahkan ia sudah hafal total 17 Juz di dalam Al-Qur’an, Masya Allah. Saya sangat salut kepada Syifa, sebelumnya ia hanya hafal 2 Juz saja. Karena ia mengikuti suatu program menghafal Al-Qur’an saat liburan berlangsung Syifa bisa menambah 15 Juz di Al-Qur’an dalam waktu dua minggu saja.
Waktu subuh sudah datang, para santri melakukan sholat subuh berjamaah di Pondok Pesantren dengan imam yang memimpin salah satu santri yang sudah dijadwalkan. Begitu pula dengan yang melakukan Kultum. Setelah sholat subuh mereka kembali melakukan dzikir pagi dan membaca Al-Ma’tsurat. Setelah itu mereka bersiap-siap untuk melakukan piket pagi seperti menyapu teras, menyapu halaman, menyapu mushola serta menyapu dibagian jemuran. Selagi sebagian ada yang piket, sebagian yang lainnya kembali ada yang membaca Al-Qur’an. Lalu ada yang sudah bersiap-siap untuk sekolah, selanjutnya mereka melakukan makan pagi bersama sebelum berangkat sekolah.
Saat semua santri sudah berangkat ke sekolah, seketika Pondok Pesantren pun berubah menjadi sepi. Saya dan kelompok saya lalu berkumpul menjadi satu dan melakukan sarapan pagi bersama. Lalu saya dan kelompok melakukan tukar pikiran, bercerita satu sama lain. Bagaimana keadaan di Pondok Pesantren MTs serta SMA, ternyata juga tidak jauh beda kegiatannya. Setelah selesai sarapan kami semua meluncur menuju sekolahan, kami diajak oleh pengasuh yang bernama Mbak Tyas untuk berkeliling melihat bangunan sekolah sambil diceritakan sedikit sejarah mengenai sejarah berdirinya sekolah dan Pondok Pesantren Al-Amin tersebut serta bertemu dengan Kepala sekolah MTs dan SMA disana.
Sebenarnya kami ingin sekali bertemu dengan pimpinan Pondok Pesantren, tetapi beliau saat itu tengah melakukan ibadah Umroh dan belum kembali ke tanah air. Singkat cerita, dahulunya tanah yang dipakai untuk Pondok Pesantren disana ialah bekas kandang babi dan yang punya tanah tersebut beragama nasrani. Pondok ini beru berusia 15 tahun, dan yang mendirikan Pondok Pesantren ini ialah Bapak Hartono, yang dulunya beliau mengasuh anak yatim. Namun lama-kelamaan banyak yang minat untuk tinggal di Pondok Pesantren. Maka berdirilah Pondok Pesantren Al-Amin di Mojolaban, Sukoharjo. Disana jenjang pendidikannya lengkap mulai dari TK, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan SMA.
Setelah berkeliling sambil diceritakan mengenai sejarah Pondok Pesantren oleh pengasuh, kami pun kembali bercengkrama bersama siswa MTs disana. Saat itu siswa SMA sudah pulang lebih awal dikarenakan sedang melaksankan ujian. Setelah kami bercengkrama kami pun kembali ke Pondok masing-masing untuk beristirahat dan makan siang. Selanjutnya hujan deras pun mengguyur di daerah sana, yang sebelumnya para santri hendak berangkat ke sekolah untuk melakukan kegiatan Mujawwad atau membaca Al-Qur’an menggunakan nada-nada. Tetapi, yang harusnya kegiatan tersebut dimulai pukul 3 sore atau ba’da ashar mundur menjadi pukul 4 sore dan selesai saat waktu maghrib.
Setelah semua kegiatan selesai, mereka melakukan makan malam bersama. Lalu kegiatan selanjutnya bebas, dikarenakan saat itu malam minggu. Seperti biasa mereka melakukan kegiatannya masing-masing. Sementara itu kami bersiap-siap untuk pulang kembali ke rumah. Sebenarnya saya masih betah untuk tinggal disana, namun tugas saya sudah selesai untuk melakukan Live in di Pondok Pesantren tersebut.
Pelajaran yang dapat saya ambil ketika saya melakukan Live in adalah saya lebih tau mendalam tentang hidup di Pondok Pesantren itu seperti apa, yang jauh dari keluarga, semuanya harus disiplin mengikuti peraturan, selalu menjalin kebersamaan, lebih tau mendalam tentang agama, dan yang paling penting ialah menghargai waktu. Karena dengan menggunakan waktu yang baik dan memanfaatkan waktu dengan baik pula, kita dapat melakukan banyak hal-hal yang positif.



